Potensi & Keseimbangan
Dunia ini bagaikan rimba belantara. Sekali kita salah memilih jalan, maka harapan untuk keluar pada jalur yang sebenarnya semakin tipis. Allah tahu bahwa kita tidak mungkin melintasi rimba ini tanpa perbekalan dan perlindunganNya, karena itu Dia menganugerahkan potensi pada masing-masing kita. Karakter kita adalah salah satu potensi. Kalaupun kita merasa bahwa ada karakter lemah & ada karakter kuat, kelebihan dan kelemahan itu hanyalah terkait dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung dan bukanlah sebuah kesalahan kreasiNya. Tidak mungkin ke-Maha Sempurna-anNya meninggalkan kesalahan penciptaan. Artinya, satu karakter dapat menjadi kelemahan pada situasi dan waktu tertentu, namun dapat menjadi kekuatan pada situasi dan waktu yang berbeda. See, tak ada yang cacat dari rancanganNya.
Manusia hidup saling mengisi, komplementer, saling melengkapi. Di satu titik Allah meletakkan seorang manusia, dengan segenap kelebihannya untuk berdinamisasi di titik itu. Di titik lainnya, Allah memposisikan manusia lainnya yang potensinya sesuai dengan kondisi di titik itu. Dan terjadilah keseimbangan. Jika perannya bertukar, belum tentu tercipta keseimbangan. Tugas kita adalah mengenali potensi diri, mengetahui bagaimana memberdayakannya, dan mulailah menjalankan peran kita.
bandung, pagi yang dingin di 6 Ramadhan 1425 H
andaikan
andaikan aku bisa menghadirkan rasa menyesal itu sebelum semuanya terjadi .....
if I can turn back time .....
bandung, in a depressing moment
Pelajaran Berharga
Haruskah seperti itu Engkau mengingatkanku? Apakah aku sudah sedemikian parahnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggu pikiranku. Sejak kejadian kemaren sore, aku tak hentinya memikirkan jawabannya. Kejadian yang sedikit mengguncangkanku dan membuatku .... malu. Selalu, tiap aku mengalami kejadian seperti ini, emosiku terpengaruh dan baru pulih setelah beberapa lama. Dan hari ini, aku masih merasakan bayang-bayang peristiwa itu. Sungguh, aku tak bisa menutupinya, tersenyum dan berpura-pura ceria sementara hati ini meronta, tak tahan untuk berduka. Duh Gusti, paringono sabar .....
Tiap kali sholat, aku selalu meminta perlindunganMu. Kalimat ta'awudz yang kubaca tiap kali sholat membuatku merasakan kebutuhan akan penjagaanMu, pengawasanMu, dan pengamananMu. Mungkin, kejadian itu merupakan caraMu menjagaku. Mungkin aku terlalu bandel, keras kepala dan tidak mau berubah sehingga tidak mempan lagi ketika dinasehati dengan lembut. Atau mungkin kelembutanMu tidak tertangkap oleh kerasNya hatiku? Sehingga ketika sentuhan-sentuhanMu hadir, aku hanya bisa melihat kelebatnya lewat tanpa menangkap maknanya.
Ah...aku malu. Aku malu dengan predikat yang diberikan oleh teman-teman padaku. Kadang terpikir, ah, itu bukan aku. Komentar berbunga-bunga yang mereka tuliskan adalah fantasiku, karakter yang memang kuimpikan, tapi saat ini belum jadi kenyataan. Sesaat, bunga-bunga itu menciptakan kebanggaan diri, penyakit laten yang membuat hatiku bernoda. Ya Allah, ampunilah aku jika merasa bangga dengan apa yang tidak kumiliki. Ya Allah, semoga aku lebih baik dari persangkaan mereka padaku.
bandung, pagi kelabu menuju biru di lembar keempat Ramadhan
Adakah yang lebih indah?
Hari ini aku merasa penuh. Penuh dengan harapan dan semangat. Alhamdulillah, aku diijinkan menikmati Ramadhan hari pertama ini. Setelah sebulan kemaren berharap-harap cemas, apakah aku dipanjangan usia hingga tiba Ramadhan nanti. Kemaren, saat tarawih, aku merasakan perasaan yang luar biasa. Rasanya dada ini disesaki oleh nafas kebahagiaan. Kemudian aku merenung, orang bisa bahagia walaupun hartanya tidaklah menggunung, orang bisa bahagia walaupun tidak sepopuler para elit, orang bisa bahagia walaupun tanpa gelar sarjana, orang bisa bahagia walaupun tidak secantik para model, orang bahagia bisa hanya karena hal-hal 'kecil'.
Aku bahagia karena aku punya seorang teman yang saat itu hadir di sisiku, fisiknya dan jiwanya. Aku bahagia karena aku bisa menyapa sahabat-sahabatku dengan senyum dan kelembutan. Aku bahagia karena merasakan sedikit tetes kemegahan Ramadhan. Sebenarnya, ada banyak alasan untuk bahagia. Cari saja. Untuk sementara, tinggalkan pembandingan, lupakan hal-hal 'lebih' yang kita pikir orang lain dapatkan. Rasakan apa yang kita terima. NikmatMu yang mana lagi yang akan kudustakan?
bandung, lembar pertama Ramadhan 1425H
Sumber Energi
Masih ingat dengan Hukum Kekekalan Energi yang diajarkan oleh guru-guru SMP kita? Aku masih ingat, karena di bangku kuliah teori itu diputar ulang oleh dosen kimia. Bunyinya sekitar : bahwa energi adalah kekal meskipun dia mengalami daur yang membuatnya senantiasa berubah wujud. Sebagaimana sumber energi itu sendiri, Allah tentunya, yang juga Maha Kekal. Allah merupakan sumber energi utama, energi fisik dan ruhiyah. Dialah yang Maha Kuat yang mampu menguatkan hambaNya dan Dialah yang Maha Kuasa yang mampu melemahkan hambaNya. Adalah sebuah kebodohan bila menganggap kekuatan dan kemampuan kita adalah hasil karya kita sendiri, itu adalah tanda-tanda awal kesombongan.
Pagi ini, aku meminta kepada sumber energi itu kekuatan, kekuatan untuk menyelesaikan hari ini dengan sebaik-baiknya. Toh, aku tidak tahu apa yang akan kualami seharian ini. Aku hanya bisa berharap bahwa semuanya akan berjalan dengan mudah. Aku tidak mau menjadi orang yang merugi yang hari ini tidak membawa kemajuan apapun baginya apalagi menjadi orang yang celaka, hmm... sama sekali tidak tertarik. Bersyukur, mungkin itu satu hal yang harus kulakukan tiap pagi, agar segala nikmatNya dapat kurasakan dan kuberdayakan.
bandung, kamis terakhir sya'baan 2004
Koordinasi Maha Sempurna
Waaah, sudah lama sekali meninggalkan blog. Sebenarnya beberapa hari kemaren ada keinginan untuk menulis lagi di sini, tapi sepertinya sungai ideku lagi kering, hehehe... jadi kaya reuni euy sekarang. Pagi ini tiba-tiba ada ide melintas di kepalaku. Cepat-cepat aku tangkap sebelum hilang lagi.
Tentang koordinasi. Aku ada 'pemilik' dari tubuh ini, otak, kepala, mata, telinga, mulut, hidung, leher, tangan, jemari, kaki, sampai seluruh organ tak terlihat yang membangun keseluruhan tubuh ini. Bayangkan, jika keseluruhan komponen tubuh ini tidak mau bekerja sama, masing-masing memilih untuk bekerja sesuai keinginannya sendiri dan menolak untuk menyamakan visi dan misi. Pasti yang terjadi adalah kekacauan, waah, ngga kebayang deh kalau mata tidak mau bekerja sama dengan otak, atau otak tidak mau bekerja sama dengan kaki. Satu kata yang mendadak muncul di kepalaku adalah alhamdulillah, segala puji pada Mu yaa Allah yang telah mengatur semuanya dengan sempurna. Lewat perantara syaraf, hormon, otot, Engkau atur tubuhku, gerakku, pikiranku, dan perkataanku. Koordinasi yang luar biasa bukan? Padahal aku hanyalah satu tubuh di antara milyaran makhlukNya, Maha Sempurnanya Engkau .......
bandung, 3 hari menjelang Ramadhan