Kenangan
Kenangan kadang menyakitkan, kadang membahagiakan. Beruntunglah aku karena aku tidak suka menyimpan maupun mengingat kejadian-kejadian yang menyisakan sedih dalam hatiku. Aku lebih suka mencatat di lembar jiwaku peristiwa-peristiwa yang membuatku tersenyum, tertawa, dan terharu. Pun kejadian sekecil apapun akan kusimpan dengan rapi dan kujadikan penawar di kala hening dan sendiri. Yah, kenangan bersama teman, sahabat, dan saudara yang kubingkai dengan rasa cinta.
Pagi ini aku mengingat lagi sebuah kenangan bersama saudariku. Bukan kejadian besar memang, namun membuatku tersenyum sendiri. Dan kemudian, kurasakan aliran kebahagiaan di dalam dada. Aku memujaMu, subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakan kejadian-kejadian luar biasa dalam hidupku. Aku jadi tak merasa sendiri lagi, karena ku tahu bahwa ada orang-orang yang aku terikat pada mereka, merasakan kebersamaan dan keberadaan mereka di sisiku. Menenangkanku.
Aku hidup bersama orang-orang yang menyisihkan sebagian waktu dan pikirannya untuk orang lain. Bahkan untuk orang yang tidak mereka kenal. Meletakkan sejenak kepentingannya lalu mengambil permasalahan dan kebutuhan orang lain untuk dipikirkan dan dipecahkan. Orang-orang hebat. Aku pernah dan masih saja berharap untuk bisa menjadi seperti mereka. Orang-orang yang tak acuh dengan perputaran jaman dan peristiwa di sekitar mereka, orang-orang yang tahu pasti seperti apa hidup ini harus dijalani, dan orang-orang yang mampu mendefinisikan dengan nyata tujuan hidupnya. Aku hidup di antara mereka, namun masih merasa asing dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Aku tahu bahwa aku harus belajar dan terus belajar. Kemudian menjelmakan setumpuk teori itu dalam kehidupan nyata.
***bandung, kamis ke-53 di 2004***
Mother's Day
Bundaku
Dia bukanlah malaikat yang tercipta dari cahaya
Dia bukanlah bidadari yang turun dari surga
Dia bukanlah manusia sempurna tanpa cela
Dia bukanlah pemilik segalanya
Tapi bundaku
Dia adalah mata air di lembah jiwaku
Dia adalah mentari di sudut nuraniku
Dia adalah pesona kepribadian yang kujadikan inspirasi
Dia memiliku, mengajariku dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya
Bunda
Apakah hakku untuk hanya mengingatmu sesekali dalam hariku?
Apakah hakku untuk hanya berterima kasih padamu sekali dalam setahun, saat hari ibu dirayakan?
Mengapa aku belum juga menyadari betapa beruntungnya aku karena Allah menganugerahkanmu padaku?
Dapatkah aku memberikan kasih sepanjang zaman padamu seperti yang aku dapatkan darimu?
***bandung, in mother's day @ 2004, kala sejuta tanya di benak meminta jawaban***
Berbagi
Berbagi memang takkan pernah rugi. Pun membagi sedikit harta yang kita miliki, apalah ruginya. Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh seorang ibu tua penjual baju yang dagangannya belum tentu laku satu sehari, namun dapat dengan mudahnya memberikan selembar dagangannya pada seorang anak kecil yang baru dikenalnya. Atau pada kisah seorang bapak tua penjual air yang dengan ringannya memindahkan setengah kaleng airnya ke tangki seorang pemuda yang meminta airnya. Atau seorang ibu penjual kue keliling yang seharian menjajakan dagangannya untuk memperoleh lembar demi lembar uang, namun dengan mudahnya memberikan selembar sepuluh ribuan kepada seorang ibu tua yang membutuhkan uang untuk membayar spp anaknya, padahal ibu penjual kue itu sendiri masih menunggak pembayaran spp putranya. Oh, apakah dunia sudah terbalik, sehingga harus si miskin yang menyantuni si fakir? Ke manakah perginya orang-orang kaya dunia? Kemanah perginya orang-orang berduit yang menghamburkan uang dengan mudahnya?
Fragmen demi fragmen yang muncul di tayangan televisi itu benar-benar menyentuhku. Ternyata, masih banyak orang baik, masih banyak orang jujur, dan masih banyak orang papa yang tak pernah segan untuk memberi dan berbagi. Bukankah justru harta yang dibelanjakan di jalan Allah itulah yang sebenarnya rezeki kita? Manusia-manusia mulia itu mengajarkannya padaku. Mereka yang seringkali menjadi korban kebijakan-kebijakan timpang pemerintah ternyata malah memberikan keteladanan yang luar biasa.
Seharusnya, para pemimpin yang menduduki kursi kekuasaan di negeri ini melihat mereka, bercerminlah pada semangat berbagi dan keberanian mereka untuk mengalahkan keinginan menjadi penguasa harta, kekuasaan, dan kedudukan. Belajarlah menjadi orang biasa. Karena bagaimanapun, kami, rakyat biasa ini ingin punya pemimpin yang mau mendengar keinginan dan harapan rakyatnya, dan tidak sok kuasa. Tidak apa-apa walau hanya bisa mendengar karena mendengar-pun butuh keberanian dan kejujuran hati.
***bandung, rabu ke 53 at 2004***
Pilihan
Memilih adalah hak dasar manusia. Ia mengiringi dimanapun, kapanpun, dan apapun kejadiannya.
Diam adalah pilihan. Namun, mengapa harus diam jika bergerak pun adalah pilihan atau mengapa harus menyerah jika berjuang pun merupakan pilihan. Sudah menjadi sunnatullah jika dlm setiap kondisinya, manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Tugas manusia adalah memutuskan pilihan manakah yang dapat menjadikan hidupnya tetap seimbang sehingga tetap berada di garis lurus. Seimbang di antara kekurangan dan berlebihan, seimbang di antara menahan dan memberikan, karena semuanya telah diciptakan Allah secara seimbang dan kewajiban manusia lah sebagai penghuni bumi untuk menjadikannya tetap seimbang.
Namun, saat keputusan telah ditetapkan dan ketika jalan telah ditempuh, mampukan manusia menyadari benar atau salahnya perbuatannya? Mungkin tidak jika dia hanya sekedar berjalan tanpa melihat jejak yang ia tinggalkan. Satu kata, evaluasi. Menilai kembali baik buruknya perbuatan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran sejati. Kebenaran yang bagaimana? Kebenaran sejati tentunya. Namun, mampukah memahami dengan tepat makna kebenaran sejati itu kemudian membuatnya membumi? Memahami secara harfiah makna kebenaran belum tentu sampai pada kepahaman maknawi. Memutuskan benar & salahnya perbuatan tidak hanya bersandar pada rasio yang menilai logika kebenaran bersandar pada teori, namun juga mempertimbangan intuisi, feeling, nurani, atau apapun itu. Dan ketika ketidak-seimbangan telah terjadi, haruskan kita bertahan pada ketimpangan itu? Menganggap semuanya adalah bagian dari takdirNya?
Takdir tak bisa dipersalahkan atau dijadikan pembenaran kesalahan. Pilihan-pilihan terdahulu kitalah yang membawa takdir pada kita. Kalaupun kita rasa salah, bukanlah tindakan yang tepat untuk menunggu datangnya mukjizat tanpa usaha, tetapi perbaikilah kesalahan itu. Dan kalaupun kita rasa benar, tidak usah berbangga hati, bersyukurlah bahwa kita masih dilindungiNya.
***deep thingking mode ON***