Mereka yang Tak Mau Dikasihani
Subhanallah! Salut! Luar biasa!
Kekaguman itu yang muncul di benakku ketika melihat betapa gigihnya mereka berjuang. Mereka, orang-orang yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup tanpa meminta belas kasihan orang lain tetapi lebih memilih memanfaatkan potensi masing-masing secara maksimal. Aku iri dengan mereka. (Apa ini termasuk iri yang diperbolehkan? :D). Mereka mungkin orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, atau bisa jadi orang-orang yang tidak tahu bahwa mencari nafkah adalah ibadah, atau mungkin orang-orang yang bekerja 'hanya' sekedar memenuhi kebutuhan hidup, siapapun mereka, banyak pelajaran berharga yang aku temukan pada sikap hidup mereka.
Aku justru tidak simpati dengan orang-orang yang kegemarannya menengadahkan tangan di perempatan-perempatan jalan, di lampu merah-lampu merah, di depan mall, di stasiun, di terminal, di emperan toko, dan di pinggir-pinggir jalan. Aku kasihan kepada mereka bukan karena mereka miskin, tapi lebih karena rasa putus asa yang mendera mereka. Bagaimana tidak? Bagi yang muda-muda, bukankah selalu ada jalan lain selain meminta-minta? Toh, kalau mereka mau dan bersemangat keras, insyaallah ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Bagi yang tua-tua, bukan saatnya lagi bagi mereka untuk berjibaku di jalanan melawan kerasnya lalu lintas, mulai dari polusinya hingga kerawanannya. Kini masanya bagi mereka untuk mendidik putra-putri mereka, sambil mengisi hari tuanya dengan kegiatan yang lebih bernilai. Buat yang anak-anak, mereka harusnya bersekolah & mendapat pendidikan yang benar. Mereka tidak seharusnya berada di jalanan, karena jalanan lebih banyak memberikan pengaruh buruk bagi mereka.
Maaf, mungkin pendapatku ini terlalu ideal. Bisa jadi para orang tua yang beredar di jalanan itu sedang mencari nafkah karena tidak mendapatkan kecukupan dari anak-anaknya. Bisa jadi para orang muda yang berkeliling jalanan itu sedang memenuhi hajat hidup keluarganya. Bisa jadi anak-anak itu sedang diperalat orang tuanya. Entahlah, banyak alasannya. Tetapi, kalau dibandingkan dengan ibu tua di televisi yang memenuhi hari-harinya dengan bekerja keras, mereka seharusnya malu & tidak punya alasan lagi untuk menjadi pengemis.
Tapi ya sudahlah, cara hidup mereka tidak bisa diubah dalam sekejab hanya dengan protes dariku ataupun dari nasehat seorang bijak. Perubahan itu butuh proses. Tapi siapakah yang berperan utama dalam merubah mereka agar menjadi generasi yang lebih baik? Pemerintah? Negara? Rakyat? Ormas? Partai? Atau siapa? Yang jelas, aku lihat jumlah mereka makin banyak saja, seiring dengan krisis yang tak kunjung henti. Aku juga harus ambil bagian, walaupun aku belum tahu bentuknya seperti apa. Mungkin salah satu caranya adalah dengan tidak memberikan recehan seperti keinginan mereka, tapi lebih memilih menyalurkannya melalui lembaga-lembaga yang amanah. Yah, walaupun konflik antara memberi atau tidak masih sering kurasakan, dan sering berakhir dengan pertimbangan 'aku lagi baik atau tidak', tetapi tetap kuusahakan konsisten untuk tidak memberikan mereka uang ;))

<< Home