istana langit

Langit adalah istana tanpa tiang. Langit-birunya keagungan, putihnya kebenaran, lapangnya kedamaian, teguhnya perlindungan. Berdiri tegak di bawahnya, merasakan kerapuhan dan kekerdilan diri. Kedamaian dan kejernihan adalah inspirasi bagi pengertian dan pemahaman. Mengikat hikmah dalam rangkaian kata tak terputus di istana langit.

Name: gita
Location: bandung, west java

Sunday, September 25, 2005

Rokok & Perokok


Pagi ini aku melihat seorang sopir angkot yang berspekulasi dengan rezekinya. Hihihi....apaan tuh? Penumpang angkotnya hanya ada 3 orang, hari sepagi itu aku yakin belum banyak pemasukan yang didapatnya. Tapi apa yang dia lakukan? Dia membeli sebatang rokok pada pedangan kaki lima di jalanan. Walaupun hanya seharga 500 rupiah, tetapi itu adalah uang yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bukankah menghemat pengeluaran dan hanya menyalurkannya pada hal-hal yang penting adalah salah satu cara menjemput rezeki? Apakah dia yakin bahwa dia akan mendapat pengganti 500 rupiah yang dia 'buang' dalam bentuk rokok? Yah, mungkin dia orang yang sangat tawakal sehingga dia benar-benar yakin bahwa Allah akan mengganti uang yg dia belanjakan itu, atau dia tidak bisa hidup tanpa rokok, wallahu'alam.

Entah rokok atau perokoknya yang kurasakan benar-benar mengesalkan. Di dalam islam diajarkan untuk tidak membenci pelakunya tetapi membenci perbuatannya. Tapi dalam hal yang satu ini aku sering sekali melanggarnya, aku membenci keduanya, rokok sekaligus pelakunya. Pasalnya, keduanya saling berkaitan. Rokok tanpa perokok tidak akan membuatkan kesal dan perokok bukanlah perokok tanpa rokok. Jadi, jika aku melihat kedua hal itu bersamaan, yang terpikir di kepalaku adalah bagaimana menunjukkan aksi ketidak-sukaanku se-eksplisit mungkin. Apalagi ketika di angkot, di tempat se-sempit dan sepenuh itu, kalau ada seorang perokok yang merokok, sudahlah begitu dia duduk di tengah atau di pojok ruangan, sudahlah jendelanya susah dibuka, sudahlah dia dengan acuhnya mengebul sesuka hati, waah, aku dengan semangat 45 segera menunjukkan aksi protes.

Bukankah seorang muslim yang baik itu adalah jika orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Seorang perokok yang merokok adalah seseorang yang membuat orang lain tidak aman dengan tangannya. Bukankah pihak pengebul dan penghisap asap rokok sama-sama dalam posisi membahayakan? Seorang perokok pasif juga akan terkena imbas dari asap rokok yang dihisapnya. Bagaimanapun, udara bergerak ke segala arah dalam bentuk partikel yang mungkin tidak terlihat, tapi ikut masuk ke saluran pernafasan. Nah, kalau sudah menimbulkan efekk-efek negatif, siapa yang akan merasakan akibatnya? Apakah perokok itu akan menanggung efek sampingnya? Tentu tidak.

Harusnya, pemerintah menerapkan kebijakan zona anti-rokok dan zona silahkan-merokok. Nah, paling tidak biarlah para perokok menikmati hasil perbuatan mereka sendiri, tanpa orang lain ikut terlibat ataupun merasakan efek samping perbuatan mereka. Bukankah ini lebih bijaksana? Daripada membiarkan para perokok itu menzhalimi orang banyak dengan tingkah laku mereka. Tapi yah, aku boleh berharap, pemerintah jugalah yang memutuskan ;))