Tak Berbatas, Tak Berbalas
Ayah : Banyak banget kiriman uangnya?
Aku : Ah, masa sih? Gpp, itung2 THR buat mama ...
Ayah : Nanti uangmu habis ...
Aku : Ah, enggak, masih ada kok
---- cut ----
Begitulah, ayah-ibu susah sekali untuk merepotkan anaknya. Kirimanku yang ngga seberapa dianggap begitu besar oleh mereka. Masih juga mengkhawatirkan apakah aku masih punya simpanan uang atau tidak. Hehehe, padahal rasanya tidak mungkin aku mengirimkan uang kalau membuatku jadi tidak bisa makan. Sebenarnya, buatku, tidak pernah ada istilah 'cukup besar' untuk membalas segala yang sudah mereka berikan padaku, biarpun aku bayar dengan penghasilan seumur hidup. Lagipula, mereka tentu tidak bersedia dibayar atas semua pemberian itu.
---- sambungan ----
Ayah : Mama langsung beli gip (hiasan sudut dinding) buat kamarmu ... langsung pesen
Aku : Wah, kan itu buat mama ...
Ayah : Ngga tau mamamu, semangat banget, biar bagus katanya ...
Aku : oooo... ya udah, terserah aja lah
---- skipped ----
Kiriman itu buat mama, kenapa ujung-ujungnya untuk benerin kamarku? Aku hanya sedikit mengerti jalan pikiran orang tuaku. Selalu begitu, kepentingan anaknya berada pada prioritas tertinggi. Mungkin itu yang dinamakan cinta tak berbatas & tak berbalas ....
Alhamdulillah, aku belajar satu hal lagi dari orang tuaku. Berkaca pada mereka, mudah-mudahan kelak bisa menjadi ibu yang disayangi sepenuh hati oleh putra-putrinya.

<< Home