istana langit

Langit adalah istana tanpa tiang. Langit-birunya keagungan, putihnya kebenaran, lapangnya kedamaian, teguhnya perlindungan. Berdiri tegak di bawahnya, merasakan kerapuhan dan kekerdilan diri. Kedamaian dan kejernihan adalah inspirasi bagi pengertian dan pemahaman. Mengikat hikmah dalam rangkaian kata tak terputus di istana langit.

Name: gita
Location: bandung, west java

Tuesday, September 27, 2005

Pantaskah Berharap Surga?


Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas
sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan
tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan.
Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?
Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.
Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah

Sumber : Dari Seorang Sahabat dalam menyongsong Ramadhan

Monday, September 26, 2005

Maha Sempurna


Detik ini hari ini aku merasa berbeda dengan detik ini sehari lalu. Kenapa perubahan itu bisa terjadi? Atau memang seluruh manusia tidak pernah sama dari detik ke detik? Bukankah setiap harinya sel-sel manusia senantiasa ber-regenerasi, berganti-ganti memperbarui diri? Kalau emosi berwujud, tentunya dia berada di salah satu dari milyaran sel tubuh manusia, sehingga dia juga turut memperbarui diri, sehingga wajar pula jika emosi manusia dari hari ke hari bahkan detik ke detik senantiasa berubah.

Bagaimana emosi bisa ditransferkan dari sel lama ke sel baru? Sehingga manusia masih bisa merasakan emosinya sejam, sehari, bahkan beberapa tahun yang lalu. Mungkin ingatanlah yang melakukannya, menanamkan kembali emosi di kejadian yang telah lalu pada sel-sel baru, sehingga seolah-olah baru dirasakan kemaren atau satu jam yang lalu. Lalu, di manakah ingatan ini di simpan? Di dalam salah satu sel tubuh juga bukan? Berarti terjadi proses transfer yang luar biasa sehingga kesan terhadap peristiwa yang telah lampau tidak hilang bersamaan dengan berdegenerasinya sel-sel tubuh.

Benarlah ajakan Allah untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri kita sendiri, salah satu saja, apakah kita bisa menyangkal kesempurnaan-Nya? Tiap saatnya, di dalam tubuh ini berjalan mekanisme yang kompleks, sempurna, & sangat seimbang, yang kalau dibuat sebuah algoritma otomatisasinya, pasti akan memunculkan jutaan bahkan milyaran baris kode. Wuah, rumit juga....blom mengurusi pengecekan kasusnya yang mungkin ada banyaak sekali, blom kalau operating system nya beda-beda, blom kalau ada error-error ketika run, dsb, dsb, hehehe...programmer banget mikirnya.

Subhanallah.....memang Dia Maha Sempurna & Luar Biasa.

Sunday, September 25, 2005

Rokok & Perokok


Pagi ini aku melihat seorang sopir angkot yang berspekulasi dengan rezekinya. Hihihi....apaan tuh? Penumpang angkotnya hanya ada 3 orang, hari sepagi itu aku yakin belum banyak pemasukan yang didapatnya. Tapi apa yang dia lakukan? Dia membeli sebatang rokok pada pedangan kaki lima di jalanan. Walaupun hanya seharga 500 rupiah, tetapi itu adalah uang yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bukankah menghemat pengeluaran dan hanya menyalurkannya pada hal-hal yang penting adalah salah satu cara menjemput rezeki? Apakah dia yakin bahwa dia akan mendapat pengganti 500 rupiah yang dia 'buang' dalam bentuk rokok? Yah, mungkin dia orang yang sangat tawakal sehingga dia benar-benar yakin bahwa Allah akan mengganti uang yg dia belanjakan itu, atau dia tidak bisa hidup tanpa rokok, wallahu'alam.

Entah rokok atau perokoknya yang kurasakan benar-benar mengesalkan. Di dalam islam diajarkan untuk tidak membenci pelakunya tetapi membenci perbuatannya. Tapi dalam hal yang satu ini aku sering sekali melanggarnya, aku membenci keduanya, rokok sekaligus pelakunya. Pasalnya, keduanya saling berkaitan. Rokok tanpa perokok tidak akan membuatkan kesal dan perokok bukanlah perokok tanpa rokok. Jadi, jika aku melihat kedua hal itu bersamaan, yang terpikir di kepalaku adalah bagaimana menunjukkan aksi ketidak-sukaanku se-eksplisit mungkin. Apalagi ketika di angkot, di tempat se-sempit dan sepenuh itu, kalau ada seorang perokok yang merokok, sudahlah begitu dia duduk di tengah atau di pojok ruangan, sudahlah jendelanya susah dibuka, sudahlah dia dengan acuhnya mengebul sesuka hati, waah, aku dengan semangat 45 segera menunjukkan aksi protes.

Bukankah seorang muslim yang baik itu adalah jika orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Seorang perokok yang merokok adalah seseorang yang membuat orang lain tidak aman dengan tangannya. Bukankah pihak pengebul dan penghisap asap rokok sama-sama dalam posisi membahayakan? Seorang perokok pasif juga akan terkena imbas dari asap rokok yang dihisapnya. Bagaimanapun, udara bergerak ke segala arah dalam bentuk partikel yang mungkin tidak terlihat, tapi ikut masuk ke saluran pernafasan. Nah, kalau sudah menimbulkan efekk-efek negatif, siapa yang akan merasakan akibatnya? Apakah perokok itu akan menanggung efek sampingnya? Tentu tidak.

Harusnya, pemerintah menerapkan kebijakan zona anti-rokok dan zona silahkan-merokok. Nah, paling tidak biarlah para perokok menikmati hasil perbuatan mereka sendiri, tanpa orang lain ikut terlibat ataupun merasakan efek samping perbuatan mereka. Bukankah ini lebih bijaksana? Daripada membiarkan para perokok itu menzhalimi orang banyak dengan tingkah laku mereka. Tapi yah, aku boleh berharap, pemerintah jugalah yang memutuskan ;))


Tuesday, September 20, 2005

Mereka yang Tak Mau Dikasihani


Subhanallah! Salut! Luar biasa!
Kekaguman itu yang muncul di benakku ketika melihat betapa gigihnya mereka berjuang. Mereka, orang-orang yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup tanpa meminta belas kasihan orang lain tetapi lebih memilih memanfaatkan potensi masing-masing secara maksimal. Aku iri dengan mereka. (Apa ini termasuk iri yang diperbolehkan? :D). Mereka mungkin orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, atau bisa jadi orang-orang yang tidak tahu bahwa mencari nafkah adalah ibadah, atau mungkin orang-orang yang bekerja 'hanya' sekedar memenuhi kebutuhan hidup, siapapun mereka, banyak pelajaran berharga yang aku temukan pada sikap hidup mereka.

Aku justru tidak simpati dengan orang-orang yang kegemarannya menengadahkan tangan di perempatan-perempatan jalan, di lampu merah-lampu merah, di depan mall, di stasiun, di terminal, di emperan toko, dan di pinggir-pinggir jalan. Aku kasihan kepada mereka bukan karena mereka miskin, tapi lebih karena rasa putus asa yang mendera mereka. Bagaimana tidak? Bagi yang muda-muda, bukankah selalu ada jalan lain selain meminta-minta? Toh, kalau mereka mau dan bersemangat keras, insyaallah ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Bagi yang tua-tua, bukan saatnya lagi bagi mereka untuk berjibaku di jalanan melawan kerasnya lalu lintas, mulai dari polusinya hingga kerawanannya. Kini masanya bagi mereka untuk mendidik putra-putri mereka, sambil mengisi hari tuanya dengan kegiatan yang lebih bernilai. Buat yang anak-anak, mereka harusnya bersekolah & mendapat pendidikan yang benar. Mereka tidak seharusnya berada di jalanan, karena jalanan lebih banyak memberikan pengaruh buruk bagi mereka.

Maaf, mungkin pendapatku ini terlalu ideal. Bisa jadi para orang tua yang beredar di jalanan itu sedang mencari nafkah karena tidak mendapatkan kecukupan dari anak-anaknya. Bisa jadi para orang muda yang berkeliling jalanan itu sedang memenuhi hajat hidup keluarganya. Bisa jadi anak-anak itu sedang diperalat orang tuanya. Entahlah, banyak alasannya. Tetapi, kalau dibandingkan dengan ibu tua di televisi yang memenuhi hari-harinya dengan bekerja keras, mereka seharusnya malu & tidak punya alasan lagi untuk menjadi pengemis.

Tapi ya sudahlah, cara hidup mereka tidak bisa diubah dalam sekejab hanya dengan protes dariku ataupun dari nasehat seorang bijak. Perubahan itu butuh proses. Tapi siapakah yang berperan utama dalam merubah mereka agar menjadi generasi yang lebih baik? Pemerintah? Negara? Rakyat? Ormas? Partai? Atau siapa? Yang jelas, aku lihat jumlah mereka makin banyak saja, seiring dengan krisis yang tak kunjung henti. Aku juga harus ambil bagian, walaupun aku belum tahu bentuknya seperti apa. Mungkin salah satu caranya adalah dengan tidak memberikan recehan seperti keinginan mereka, tapi lebih memilih menyalurkannya melalui lembaga-lembaga yang amanah. Yah, walaupun konflik antara memberi atau tidak masih sering kurasakan, dan sering berakhir dengan pertimbangan 'aku lagi baik atau tidak', tetapi tetap kuusahakan konsisten untuk tidak memberikan mereka uang ;))


Wednesday, September 14, 2005

Kenangan


Pagi ini aku membuka-buka kembali album alumni es-em-u. Gara-garanya, ada teman yang tiba-tiba menanyakan seorang rekan yang entah mengapa namanya tiba-tiba raib dari ingatanku. Untungnya, orang yang dimaksud akhirnya kutemukan di buku itu. Anyway, aneka rasa (kok jadi mirip nama warung ya?) tiba-tiba menyerbuku bergantian ketika lembar demi lembarnya kusibakkan.

Ketika melihat halaman guru-guru, ada rasa terima kasih yang menyeruak yang anehnya tidak kurasakan ketika aku masih bersama mereka. Guru-guruku, orang-orang yang telah membagi sebagian ilmunya denganku. Walaupun aku membayarnya dalam bentuk SPP, namun jasa mereka bukanlah sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. Entah beliau-beliau itu menyadari jasa mereka bagi murid-muridnya atau tidak, yang jelas merekalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah puas dengan gaji PNS nya, namun memberikan manfaat yang luar biasa besar bagi perbaikan generasi.

Kemudian, kelas demi kelas kulewati. Ada teman yang kukenal baik karena pernah satu kelas ataupun seringnya bertemu, ada teman yang sekedar tahu orangnya. Yah, itu cukuplah untuk membangkitkan lagi kisah-kisah jaman muda dulu :D. Entahlah, tidak ada kejadian yang kusesali. Semuanya benar-benar menghiburku. Mulai dari betapa seringnya aku melakukan tindakan tidak masuk akal sampai tindakan yang mendekati bahaya, yang tentu saja baru kusadari bahayanya saat ini. Mungkin aku seharusnya banyak-banyak beristighfar, tapi aku justru lebih sering tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat-ingat kejadian-kejadian itu.

Namun, ada banyak pelajaran berharga yang bisa aku ambil. Hmmm....apa aja ya? Paling tidak, sekarang aku tahu mana yang boleh kulakukan dan mana yang harus kulewatkan. Bagaimanapun, selalu ada pelajaran di balik kejadian terburuk sekalipun, asalkan kita benar-benar mau mencarinya.

Jazz


Mengapa jazz?
Karena akhir-akhir ini hampir tiap hari, terutama pagi & malam hari, radio kusetel di gelombang jazz, KLCBS maksudnya. Karena radio jazz tentu saja semua musik yang diputar bertema jazz, maka jadilah aku penggemar jazz dadakan.

Nah, mengapa aku jadi menyukai jazz?

Ada 3 hal : aransemennya, efeknya buatku, dan liriknya.
Pertama, aransemennya. Jazz dikenal kuat dalam hal ritmik dan improvisasinya. Kalau boleh aku bilang, jazz adalah musik yang cerdas. Untuk bisa menikmatinya dan tahan mendengarkannya dalam jangka waktu yang relatif lama dibutuhkan usaha yang hampir sama kerasnya dengan menikmati musik klasik (masih menurutku). Mungkin inilah yang membuat jumlah penikmat jazz lebih sedikit daripada penggemar pop, dangdut, rock, disko, dsb, hehehe....

Kedua, efeknya. Ada rasa santai & nyaman ketika mendengarkan irama jazz.
Ketukan iramanya benar-benar kurasakan mampu membuat otakku 'bergerak'. Aku menemukan resep baru ketika otakku terasa lambat berpikir, aku membuat irama ketukan sendiri (kadang-kadang dengan menggerak-gerakkan tangan dan kakiku). Nah, cara kedua adalah dengan mendengarkan ritmik jazz : petikan gitarnya, tiupan saxophonenya, dinamisasi keyboardnya, tabuhan drum, tentu saja tidak mengikuti semua-muanya dalam satu periode, tetapi memilih salah satu yang cukup asik untuk diikuti.

Ketiga, liriknya. Hampir sebagian jazz yang aku dengarkan berjenis instrumentalia alias tidak mengandung lirik. Kalaupun ada liriknya, isinya juga sopan & tidak merusak pikiran, hehehe....

Kesimpulannya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan (baik kesehatan jasmani maupun ruhani), hehehe....jadi, disamping rajin mendengarkan jazz dalam kadar yang wajar, kadang aku masih suka mendengarkan lagu-lagu islami atau murottal. Intinya sih tergantung kebutuhan saja. Jika sedang bersemangat & keimanan sedang bagus aku dengarkan nasyid. Kalau sedang ingin muroja'ah aku dengarkan murottal. Atau ketiga-tiganya kudengarkan bergantian kalau sedang ingin meng-counter pengaruh mp3 di luar mainstreamku yang diputar keras-keras oleh temanku (mekanisme pertahanan diri :D) ;)


Tuesday, September 06, 2005

Karunia Ilahi Dalam kehidupan Rumah Tangga


Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan
apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari
wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika
berjalan,tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak
berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah
senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia
berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...


Menikah itu sangat indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan
oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu
jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang
baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung
terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang
terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar.


Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua.
Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun. Namun
sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasamembumbung atau
raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar kemana.
Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga.

Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung
pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam
sebelum sempat berlabuh di tepian.


Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu
adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada
suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan
membimbingnya sepenuh hati.

Lanjutnya kemudian.


Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan,
saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam.

Padahalia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat
pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya
karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan
terjadi "perang"

hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar
dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri.

Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang
kemudian dan merdu suaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih
tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali
suaminya datang.



Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat
demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah,
karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian
jawabannya.


Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai
tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka
tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa,
memberikan semua komitmen mereka. Kedua, ketika seseorang mencintai, maka
dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan
suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri
dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling
mengutamakan, tidak ada yang merasa superior. Ketiga, ketika mereka saling
mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya
selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah
selalu tersambung.


Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses
dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allah supaya suami selalu
dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang
membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah
gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.



Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah
tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring
persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi
sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir
nasehat berharga dari Nabi Muhammad.


Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir
kehidupannya dalam peristiwa haji wada': "Barang siapa - diantara para

suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan
memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya
menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas
perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang
Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah).


Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya
juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan,
Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para istri) adalah pakaian
bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..."
(QS.Al-Baqarah:187)


Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami
memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah
memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh
telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri
itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi' dari
Abu Sa'id Alkhudzri r.a)


Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para
pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika
suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami
juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya.

Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang
shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata,
ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia
akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta
dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan
istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.



Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan
istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah
istrinya.

Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan
nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut
mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal
keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia
memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)



Akhirnya, semuanya mudah-mudahan tetap berjalan dengan semestinya. Semua
berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski
riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau
karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian.
Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil
baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di
ufuk selalu saja tampak merekah.


Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal
cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran, Bangun di fajar subuh
dengan hati seringan awan. Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta Pulang di kala
senja dengan syukur penuh di rongga dada Kemudian terlena dengan doa bagi
yang tercinta dalam sanubari. Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di
bibir senyuman Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling
mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.


Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening
saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang
menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah,
mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap
gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan
pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the
real world "Akhirat". Mudah- mudahan kalian selamat mendayung sampai
ketepian.

Allahumma Aamiin.


NB : di kopi-paste dr milis ;), siapa tau kepake :p

Salah didikan?

Ketika mendengar kata 'belajar', yang terbayang olehku adalah sesuatu yang melelahkan, membosankan, berat, dan ujung-ujungnya adalah soal-soal yang kemudian harus dijawab yang belum tentu mudah dikerjakan. Seram sekali kesannya. Yah, begitulah yang kurasakan ketika es-de, es-em-pe, sampai es-em-a, bahkan ketika kuliah-pun aku sering merasakannya. Sepertinya, belajar adalah kewajiban yang sangat memberatkan. Aku toh saat itu tidak berpikir macam-macam, apalagi berpikir bahwa ada cara yang lebih baik untuk menikmati belajar (mungkin memang dasarnya kurang kreatif, tp bisa jadi kurang kreatif itu karena proses belajar yang salah, nah loh!). Yang aku tahu adalah ya memang seperti itulah yang namanya belajar, tidak lebih tidak kurang. Belajar adalah keterpaksaan. Akhirnya, jadilah aku seorang pembelajar SKS, sistem kebut semalam atau kebut sejam atau kebut secukupnya, yang penting soal-soal ujian bisa kujawab dengan tepat, plek sama persis dengan yang aku baca atau yang diajarkan. Anehnya, aku tidak merasa ada yang aneh dengan model belajar seperti itu.

Namun, belakangan ini aku baru menyadari bahwa ada metode belajar yang jauh lebih baik, lebih nyaman, dan lebih menyenangkan. Mungkin terlambat sekali, karena baru kutemukan setelah aku lulus kuliah (karena ketika kuliah pun sks masih suka kuterapkan). Mempelajari sesuatu yang baru akan menjadi menyenangkan ketika kita tahu bahwa ilmu itu kita butuhkan. Wah, jangan-jangan 144 SKS yang kuambil di masa kuliah dulu hanya sekedar untuk menikmati titel sarjana? Wah, jangan dong, ngga mau jadi sarjana imitasi.

Sebentar, aku cuplikkan potongan artikel yang kutemukan :

-----begin----

Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem
pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata
pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal,
bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times,
October 5, 1952).

Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that
independent critical thinking be developed in the young human being,
a development that is greatly jeopardized by overburdening him with
too much and with too varied subject (point system). Overburdening
necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that
what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard
duty."

Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan
olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan
fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu
pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir
kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia
akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang
berpikir.

-----end-----

See, ternyata memang ada yang salah dengan cara belajarku, bahkan sampai sekarang. Belajar itu banyak caranya, tidak harus dengan cara menghapalkan text book yang berlembar-lembar atau menghapal rumus sampai pegal. Melihat daun yang jatuh di atas kepalaku, melihat langit biru di kejauhan, melihat anak kecil bermain, melihat teman dekatku berbicara, mendengar musik di kejauhan, mendengar suara hujan, bertengkar dengan adik, marah melihat ketidak-adilan terhadap umat Islam, dll, asal mampu mengambil pelajaran dari itu, itulah belajar.


NB : artikel is taken from Ratna Megawangi's opinion