istana langit

Langit adalah istana tanpa tiang. Langit-birunya keagungan, putihnya kebenaran, lapangnya kedamaian, teguhnya perlindungan. Berdiri tegak di bawahnya, merasakan kerapuhan dan kekerdilan diri. Kedamaian dan kejernihan adalah inspirasi bagi pengertian dan pemahaman. Mengikat hikmah dalam rangkaian kata tak terputus di istana langit.

Name: gita
Location: bandung, west java

Tuesday, October 25, 2005

Tak Berbatas, Tak Berbalas


Ayah : Banyak banget kiriman uangnya?
Aku : Ah, masa sih? Gpp, itung2 THR buat mama ...
Ayah : Nanti uangmu habis ...
Aku : Ah, enggak, masih ada kok

---- cut ----

Begitulah, ayah-ibu susah sekali untuk merepotkan anaknya. Kirimanku yang ngga seberapa dianggap begitu besar oleh mereka. Masih juga mengkhawatirkan apakah aku masih punya simpanan uang atau tidak. Hehehe, padahal rasanya tidak mungkin aku mengirimkan uang kalau membuatku jadi tidak bisa makan. Sebenarnya, buatku, tidak pernah ada istilah 'cukup besar' untuk membalas segala yang sudah mereka berikan padaku, biarpun aku bayar dengan penghasilan seumur hidup. Lagipula, mereka tentu tidak bersedia dibayar atas semua pemberian itu.


---- sambungan ----

Ayah : Mama langsung beli gip (hiasan sudut dinding) buat kamarmu ... langsung pesen
Aku : Wah, kan itu buat mama ...
Ayah : Ngga tau mamamu, semangat banget, biar bagus katanya ...
Aku : oooo... ya udah, terserah aja lah

---- skipped ----

Kiriman itu buat mama, kenapa ujung-ujungnya untuk benerin kamarku? Aku hanya sedikit mengerti jalan pikiran orang tuaku. Selalu begitu, kepentingan anaknya berada pada prioritas tertinggi. Mungkin itu yang dinamakan cinta tak berbatas & tak berbalas ....

Alhamdulillah, aku belajar satu hal lagi dari orang tuaku. Berkaca pada mereka, mudah-mudahan kelak bisa menjadi ibu yang disayangi sepenuh hati oleh putra-putrinya.

Tuesday, October 18, 2005

Jangan Marah


Ketika seorang laki-laki meminta nasihat kepada Rasulullah saw, Rasul 'hanya' bersabda 'Jangan marah'. Kemudian mengulanginya beberapa kali. (H.R Bukhari)

Ternyata, untuk mendinginkan kemarahan, kata-kata 'jangan marah' itu memang butuh diulang berkali-kali kepada diri sendiri.
Jangan marah. Emosi masih di level 10.
Jangan marah. Emosi di level 9.
Tarik nafas, hembuskan. Emosi di level 7.
Istighfar. Jangan marah. Emosi di level 2.
Alhamdulillah.

Astaghfirullah ... Pagi-pagi kok diawali dengan panas hati 8-|

Monday, October 17, 2005

Jagalah Allah, maka .....


..... engkau akan mendapati-Nya senantiasa bersamamu (HR. Tirmidzi)

Bagaimanakah rasanya jika Allah ada bersamaku? L
ebih mudah jika dianalogikan ;)

- andaikan engkau bersama seseorang yang sangat kuat sehingga engkau senantiasa merasa aman dari gangguan siapapun, sekuat apapun
- andaikan engkau bersama seseorang yang kaya raya sehingga segala yang engkau butuhkan ada padanya
- andaikan engkau bersama seseorang yang sangat dermawan sehingga apapun permintaanmu padanya pasti diberikan
- andaikan engkau bersama seseorang yang tahu segalanya sehingga engkau selalu merasa tenang dengan masa depanmu & kesulitanmu
- andaikan engkau bersama seseorang yang begitu menyayangimu sehingga engkau merasa seolah-olah tidak ada lagi yang disayanginya selain dirimu
- andaikan engkau berjalan di kegelapan bersama seseorang yang membawa lentera, langkahmu akan lebih pasti karena jalanmu diteranginya
- andaikan engkau bersama seorang bijak yang senantiasa mengingatkanmu jika engkau ambil jalan yang salah

Bahkan Allah lebih dan lebih baik dari itu semua .....

Nikmat-Nya yang mana lagi yang engkau dustakan .....

No Doubt


Legaaa..... Plooong.... Alhamdulillah.....

Hasil pemikiran berhari-hari. Ditimbang-timbang. Hari ini diputuskan.
Although, we'll never knew what's best for us, kita tetap harus berikhtiar secara maksimal dengan cara yang benar.

Rasululullah saw bersabda bahwa seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat padamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan (HR. Tirmidzi).
Maksudnya, kemantapan yang kurasakan sebelum membuat keputusan ini pastilah atas izin-Nya.

Barokallahu....semoga Allah memberkahi keputusanku :)

Sunday, October 16, 2005

Persiapan



Jangan pernah melakukan hal besar tanpa persiapan matang! Konsep kasar atau global tidak cukup mampu untuk menangani hal-hal detil dan teknis di lapangan. Hal-hal detil yang walaupun terkesan memusingkan dan merumitkan diri sendiri, tetapi sangat terasa kegunaannya saat pelaksanaan. Tingkat kedetilan tergantung konteks & kebutuhan kegiatan.

Kemaren, aku diajak berpartisipasi di suatu acara Ramadhan di masjid tetangga, diminta jadi juri lomba ceritanya :D. Diundang Ahad pagi untuk acara jam 9. Jadilah aku datang dengan besar harapan bahwa persiapan panitia sudah matang sehingga aku tinggal menyediakan diri dan pikiran, siap untuk diberikan paparan teknis acara. Berhubung pekan sebelumnya aku juga diundang dalam acara sejenis dan peran sejenis (yang ini malah lebih mendadak lagi), tapi karena persiapan panitia yang relatif matang dan format acara yang tidak terlalu rumit, aku bisa menjalankan peranku dengan maksimal dan enjoy. Dan, aku juga berpikiran kalau kondisi serupa-lah yang akan kuhadapi.

Kekacauan pertama.
Petunjuk teknis belum juga diberikan kepadaku bahkan hingga acara dibuka oleh ketua panitia. Aku sudah meminta. Jawaban yang aku tangkap dari panitia adalah 'juknis sedang dibuat'.

Kekacauan kedua.
Ketika aku tanyakan lagi ke panitia tentang teknis acara, panitia meminta tolong padaku untuk membantu menyelesaikan pembuatan soal untuk lomba kedua. Buat jam 10 (ketika itu sudah hampir jam 10). Loh???!!! Ya sudahlah, aku segera bergegas menuju rumah panitia. Emergency ceritanya :D

Kekacauan ketiga.
Soal untuk lomba kedua masih belum jelas formatnya. Lombanya sih sudah jelas aturannya. Masalahnya, bagaimana menyajikan soal yang sesuai dengan format acara. Pusing deh :p. Akhirnya dengan penuh akal-akalan, persoalan format soal terpecahkan. Next step adalah menyelesaikannya secepat mungkin (bayangkan, acara jam 10 bikin soalnya jam 10 lebih :D)

Kekacauan keempat.
Tiba-tiba ada yang memintaku jadi juri hapalan qur'an (asalnya aku diminta jadi juri cerdas cermat). Waaa! (yang bener aja). Berhubung salah satu juri aslinya belum datang, daripada kursi juri kosong, aku diminta duduk di situ ;)). Dengan petunjuk yang dipaparkan secara SKS (sistem kebut sesaat), aku akhirnya ditempatkan sebagai tim juri. Untung aja juri lainnya dah lebih fasih dariku, kan aku jadi lebih tenang gitu.

Kekacauan kelima.
Soal lomba cerdas cermat, beres! Lomba hapalan, beres! Akhirnya saat untuk lomba cerdas cermat tiba. Format acara ternyata cukup rumit. Ada 3 tahap. Tahap pertama soal rebutan. Tahap kedua soal survey. Tahap ketiga soal setengah menit (satu grup diminta menjawab satu soal dalam setengah menit dengan jawaban sebanyak-banyaknya). Lalu, bla bla bla bla, petunjuk teknis diberikan padaku. Ok, aku siap tempur! :)
Dan ternyataaa, ketika acara dimulai.....Hihihi.....Wes wes, pokoke heboh tenann. Peserta gelombang pertama sepertinya jadi kelinci percobaan ;)). Kekacauan di mana-mana >:). Gelombang kedua, panitia mulai menguasai medan (maksudnya sudah lebih tahan menghadapi kekacauan2 yang mungkin terjadi, walaupun masih kacau sih). Gelombang ketiga, panitia sudah mulai menemukan iramanya, sudah bisa menghandle acara dengan lebih tenang. Alhamdulillah, akhirnya acara selesai juga.

All out, acara kemaren benar-benar jadi lahan melatih emosi buatku. Alhamdulillah. Aku tidak merasa menyesal sudah ikut bantu-bantu acara itu. Aku dapat kenalan baru, menyambung silahturahmi, tambah pengalaman jadi juri, mengenal karakter teman-temanku, belajar mengendalikan emosi, dan belajar berpikir & bersikap tenang. Alhamdulillah.

Kesimpulannya satu hal : persiapan!
Ini masukanku buat para panitia. Aku tidak menyalahkan siapapun, karena toh aku yakin para panitia sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, sebaikan jika ingin mengadakan acara apapun, harus disesuaikan antara resource yang tersedia dengan kebutuhan acara. Yaah, diatur-atur lah. Lebih baik membuat acara yang sederhana tapi menarik dengan persiapan matang, daripada membuat acara besar tapi menarik namun tanpa persiapan matang :D

Anyway, selalu ada hikmah di setiap kejadian :)

Persiapan



Jangan pernah melakukan hal besar tanpa persiapan matang! Konsep kasar atau global tidak cukup mampu untuk menangani hal-hal detil dan teknis di lapangan. Hal-hal detil yang walaupun terkesan memusingkan dan merumitkan diri sendiri, tetapi sangat terasa kegunaannya saat pelaksanaan. Tingkat kedetilan tergantung konteks & kebutuhan kegiatan.

Kemaren, aku diajak berpartisipasi di suatu acara Ramadhan di masjid tetangga, diminta jadi juri lomba ceritanya :D. Dapat undangan Ahad pagi, untuk acara jam 9. Jadilah aku datang dengan besar harapan bahwa persiapan panitia sudah matang sehingga aku tinggal menyediakan diri dan pikiran, siap untuk diberikan paparan teknis acara. Berhubung pekan sebelumnya aku juga diundang dalam acara sejenis dan peran sejenis (yang ini malah lebih mendadak lagi), tapi karena persiapan panitia yang relatif matang dan format acara yang tidak terlalu rumit, aku bisa menjalankan peranku dengan maksimal dan enjoy. Dan, aku juga berpikiran kalau kondisi serupa-lah yang akan kuhadapi.

Kekacauan pertama.
Petunjuk teknis belum juga diberikan kepadaku bahkan hingga acara dibuka oleh ketua panitia. Aku sudah meminta. Jawaban yang aku tangkap dari panitia adalah 'juknis sedang dibuat'.

Kekacauan kedua.
Ketika aku tanyakan lagi ke panitia tentang teknis acara, panitia meminta tolong padaku untuk membantu menyelesaikan pembuatan soal untuk lomba kedua. Buat jam 10 (ketika itu sudah hampir jam 10). Loh???!!! Ya sudahlah, aku segera bergegas menuju rumah panitia. Emergency ceritanya :D

Kekacauan ketiga.
Soal untuk lomba kedua masih belum jelas formatnya. Lombanya sih sudah jelas aturannya. Masalahnya, bagaimana menyajikan soal yang sesuai dengan format acara. Pusing deh :p. Akhirnya dengan penuh akal-akalan, persoalan format soal terpecahkan. Next step adalah menyelesaikannya secepat mungkin (bayangkan, acara jam 10 bikin soalnya baru mulai jam 10 lebih :D)

Kekacauan keempat.
Tiba-tiba ada yang memintaku jadi juri hapalan qur'an (asalnya aku diminta jadi juri cerdas cermat). Waaa! (yang bener aja). Berhubung salah satu juri aslinya belum datang, daripada kursi juri kosong, aku diminta duduk di situ ;)). Dengan petunjuk yang dipaparkan secara SKS (sistem kebut sesaat), aku akhirnya ditempatkan sebagai tim juri. Untung aja juri lainnya dah lebih fasih dariku, kan aku jadi lebih tenang gitu.

Kekacauan kelima.
Soal lomba cerdas cermat, beres! Lomba hapalan, beres! Akhirnya saat untuk lomba cerdas cermat tiba. Format acara ternyata cukup rumit. Ada 3 tahap. Tahap pertama soal rebutan. Tahap kedua soal survey. Tahap ketiga soal setengah menit (satu grup diminta menjawab satu soal dalam setengah menit dengan jawaban sebanyak-banyaknya). Lalu, bla bla bla bla, petunjuk teknis diberikan padaku. Ok, aku siap tempur! :)
Dan ternyataaa, ketika acara dimulai.....Hihihi.....Wes wes, pokoke heboh tenann. Peserta gelombang pertama sepertinya jadi kelinci percobaan ;)). Kekacauan di mana-mana >:). Gelombang kedua, panitia mulai menguasai medan (maksudnya sudah lebih tahan menghadapi kekacauan2 yang mungkin terjadi, walaupun masih kacau sih). Gelombang ketiga, panitia sudah mulai menemukan iramanya, sudah bisa menghandle acara dengan lebih tenang. Alhamdulillah, akhirnya acara selesai juga.

All out, acara kemaren benar-benar jadi lahan melatih emosi buatku. Alhamdulillah. Aku tidak merasa rugi sudah ikut bantu-bantu acara itu. Aku dapat kenalan baru, menyambung silahturahmi, tambah pengalaman jadi juri, mengenal karakter teman-temanku, belajar mengendalikan emosi, dan belajar berpikir & bersikap tenang. Alhamdulillah.

Kesimpulannya satu : persiapan!
Ini masukanku buat para panitia. Aku tidak menyalahkan siapapun, karena toh aku yakin para panitia sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, sebaikan jika ingin mengadakan acara apapun, harus disesuaikan antara resource yang tersedia dengan kebutuhan acara. Yaah, diatur-atur lah. Lebih baik membuat acara yang sederhana tapi menarik dengan persiapan matang, daripada membuat acara besar tapi menarik namun tanpa persiapan matang :D

For all my sisters & brothers, aku salut pada kalian. Teruslah berkarya bagi umat!